ov_40

Datsun Mobil Pertamaku

Pilihan mobil pertama saya ke Datsun Goplus hasil ubek-ubek di forum internet. Mesin 1200 cc, tiga baris, eco indicator, immobilizer, sensor parkir, MID indicator: Wah, teknologi mewah yang dibenamkan, membuat nilai Goplus melebihi uang yang dikeluarkan. Istilahnya, mewah dan termurah di kelasnya. Bahkan dalam resensi otomotif, ada pengamat membandingkan Datsun dengan mobil MPV merek sebelah yang harga jauh di atas Datsun.

Seminggu sebelum mobil dikirim saya kursus mengemudi, ujian mendapatkan Sim A. Setelahnya saat STNK dan SIM A keluar, bersama istri saya tancap gas dari Jakarta ke Bandung. Itu pengalaman menyetir sendiri keluar kota. Senangnya menikmati kota Bandung yang dingin. Perjalanan selanjutnya, kami ke Yogyakarta, pamer ke mertua, hehe.

Keluarga di Jambi belum tahu saya punya mobil. Tak perlu dikasih tahu, kasih suprise aja, mendadak pulang kampung. 

Maka, sebulan kemudian: jam 5 pagi buta saya dan istri di tol menuju Merak untuk menyeberang ke Bakauheni, Lampung. Informasinya, waktu ideal menyeberang jam 7 pagi. Ajaibnya, perjalanan Kemayoran ke Merak saya tempuh hanya menghabiskan bensin Petramax 1 garis, iritnya luar biasa! 

Jam 7 pagi, kami sudah di antrian pintu masuk pelabuhan. Celakannya, tiket penyeberangan fery Merak-Bakauheni Rp.370.000,- dan tak bisa debit! Harus tunai! Saya meminggirkan mobil, turun berjalan jauh lewat jembatan penumpang, mencari atm di pintu depan. Satu jam kemudian, saat saya kembali kapal sudah berlayar, harus menunggu kapal berikutnya jam 12, hadehh hehehe.

Karena menggunakan velek standar R13, melewati beberapa jalan di Lampung yang berlubang besar seperti kubangan kerbau tak mudah. Saya yang baru bisa menyetir berakrobat sana-sini. Anehnya, pada beberapa jalan panjang mulus, tiba-tiba terdapat 4 atau 5 meter jalan rusak parah. Sehingga tak jarang terdengar suara gesekan bumper saya dan aspal karena tak sempat ngerem. Maafkan saya yah, bumper Datsun hahaha.

Tak kalah seru saat melewati jalan panjang yang kiri-kanan hutan, tanpa rumah penduduk. Apabila malam tiba, gelap gulita. Bukan apa-apa, keder kalau pernah baca berita kriminal di lintas Sumatra. Makanya saya berusaha konvoi dengan kendaraan lain, di daerah tertentu sebisa mungkin melewatinya tidak di malam hari. Istri kopilot aja, yang reflek bersuit kayak kenek saat tikungan tajam, mungkin kebiasaan waktu jadi kernet bus dulu ejek aku bercanda, hahaha. Saya menyetir sendiri. Bila merasa lelah kami mencari hotel gratis alias parkir di pom bensin untuk tidur. Demi keamanan, kami mencari pom bensin yang ramai oleh pengendara beristirahat. Setelah fit, biar cepat sampai kami melanjutkan perjalanan. Waktu itu, saya terus melaju di pekat malam dan pagi buta dalam rangkulan hujan lebat.

Pagi hari kami memasuki Palembang yang banjir karena hujan besar semalam. Sukses melewati genangan, kami istirahat makan 'nasi gemuk' di pinggir jalan. Siang menjelang sore kami tiba jua di rumah kakak saya di Kebun Handil, Jambi.

Suprise... Kakak saya heran mendapati mobil cantik putih berhenti di halamannya. Setelah istri saya keluar dan menyapa, ia kaget dan berkata "Hayaaaa... Bikin kaget bae. Pulang kok dak bilang-bilang? Tadi aku kiro siapo? Wah.. " bla bla bla.

Selanjutnya, beberapa hari saya keliling 'pamer' mobil baru ke tempat sodara hahaha. Termasuk ke kebun yang masih tanah merah dan rumput ilalang tinggi. Bahagianya, saya bisa mengajak saudara-saudara saya keliling. Kami ke Muaro Jambi berdelapan (5 dewasa dan 3 anak). Juga mengunjungi adik almarhumah mama di Kuala Tungkal (6 orang dewasa). Datsun menjadi mobil perjuangan yang menyatukan keluarga kami.

Suami kakak perempuan saya yang sering nyetir keluar kota pakai mobil kantor kepincut Datsun. Katanya, "tarikan gigi rendahnya bagus, nyalip orang dak takut. Berbeda dengan mobil 1000 cc punya Soni. Heran Soni napo dak ambil ini bae," katanya berdua suami istri mengomeli anaknya yang sudah membeli LGCC dari si kembar. Hehehe, maaf yah, Son.

Dalam hidup, paling bahagia adalah, ketika saya bisa berbagi kebahagian. Sehingga kebahagiaan itu tak menjadi milik pribadi. Saya bahagia melihat kakak ketiga saya dan istrinya, juga kedua anaknya yang sehari-hari ada di kebun, bisa wisata keliling kota Jambi bersama saya. Saya bahagia bisa membawa kakak-kakak saya dalam satu mobil Datsun. Saya mengajak mereka makan, lalu saya mengajak anaknya ke mal membeli perlengkapan sekolah. "Sudah, mau apo ambil sajo" kata saya berlagak bos besar, hehe.

Singkat kata, saya harus kembali ke ibu kota, mencari pundi-pundi yang bisa membuat saya membahagiakan orang lain. Datsun Goplus setia menemani saya membela Jabodetabek mewujudkan kebahagiaan itu. Jadi tak usah heran, belum genap 10 bulan, kilometer Goplus saya sudah di atas 20 ribu. Hahaha. Terima kasih Datsun.

Bandar Kemayoran, 02 September 2015. #Ceritadatsun